Malaysia Online Casino_Baccarat rules table_bet365 download_Getting started with baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0

WThThai Chessai ChessaktThai Chessu saya masih remaja, saya pernah menonton film tentang melahirkan. Dan itu membuat saya trauma. Sejak saat itu apapun yang berhubungan dengan melahirkan akan membuat saya merasa terganggu

Anak adalah generasi yang nanti akan memegang berbagai sektor, finansial, bisnis, politik, pendidikan dan lain-lain. Dan orang tua punya tanggung jawab yang besar untuk mendidik mereka. Untuk sekarang gue nggak mau punya anak. Keputusan punya anak atau nggak, bakal berpengaruh sama pendapatan per kapita dan kemajuan sebuah negara. Gede banget.

– M, 27 tahun

Salah satu alasan pasangan yang nggak pengen punya anak adalah karena mereka merasa nggak sanggup untuk mengurus anak. Secara mental mereka belum siap untuk merawat dan membesarkan seorang anak. Nggak kayak tumbuhan yang cuma cukup disiram, membesarkan anak juga butuh banyak persiapan. Ada kewajiban memikirkan nanti rumah tangga mereka akan penuh dengan tangisan, kerewelan, belum lagi kalau si anak sakit dan lain sebagainya, membuat sebagian pasangan benar-benar nggak siap secara mental. Nggak cuma itu, mereka juga merasa belum bisa memberikan contoh yang baik untuk dijadikan teladan atau panutan yang bisa ditiru oleh anak-anaknya kelak. Mereka belum sanggup mendidik anak menjadi generasi yang lebih baik

Anak bukanlah satu-satunya kunci kebahagiaan. Meski hanya berdua dengan pasangan, kita juga bisa bahagia kok. Banyak sumber kebahagiaan lainnya, dan itu nggak harus punya anak.

– M, 27 tahun

Entah karena pengalaman atau terlalu paranoid, mereka yang nggak mau punya anak beralasan bahwa hadirnya sang buah hati hanya akan menambah permasalahan hidup mereka. Untuk saat sekarang ini saja, hidup mereka pas-pasan. Mungkin ada yang bekerja siang malam agar bisa terus menyambung hidup. Belum lagi masalah yang muncul di tempat kerja, atau masalah dengan pasangan yang sering terjadi dan butuh waktu untuk diselesaikan. Sehingga ketika mereka memikirkan punya anak, mereka merasa beban hidup akan bertambah. Belum lagi masalah yang bisa saja timbul nantinya dengan kehadiran si buah hati. Ada juga yang merasa bahwa kehadiran anak akan mengubah hidupnya, padahal dia sudah merasa sempurna dengan hidupnya sekarang.

Mungkin sebagian orang menyayangkan hal ini. Tapi bagaimanapun, keputusan tetap berada di masing-masing pasangan. Mereka yang tak ingin punya anak juga punya alasan yang tak bisa ditolak begitu saja. Kira-kira seperti apa pemikiran mereka yang memilih untuk tidak punya anak?

Nah, ada pula pasangan yang berpikiran seperti ini. Mereka merasa bahwa populasi di dunia ini sudah terlalu banyak. Daripada menambah populasi yang ada tapi kesejahteraan tidak merata, mereka lebih memilih untuk menyejahterakan mereka yang sudah ada. Salah satunya adalah dengan cara mengadopsi anak. Saat ini banyak sekali kejadian bayi atau anak ditelantarkan oleh orangtuanya. Entah karena nggak sanggup menghidupinya atau karena kehadirannya tidak diinginkan, sang anak menjadi korban yang ditinggalkan. Dan bagi pasangan tersebut, alangkah lebih baik jika mereka mengadopsi anak-anak malang tersebut ketimbang melahirkan dan menambah populasi yang ada.

T – 24 tahun

– F, 24 tahun

Lagi-lagi kemajuan zaman memberikan dampak di berbagai aspek kehidupan. Kali ini perkembangan itu juga mulai memengaruhi aspek rumah tangga. Memang, zaman sekarang adalah zaman serba cepat dan instan. Apalagi di kota-kota besar, rasanya waktu 24 jam nggak cukup untuk menampung semua apa yang harus kamu kerjakan. Lalu apa hubungannya dengan urusan rumah tangga?

Rasanya, nggak siap aja kalau harus melepaskan karir seperti sekarang untuk merawat anak. Aku belum siap untuk meluangkan waktu untuk anak.

Karir juga kerap menjadi alasan bagi mereka yang memilih untuk nggak punya anak. Persaingan di dunia kerja yang semakin ketat, membuat mereka harus berusaha lebih keras. Apalagi di kota-kota besar. Waktu berjalan begitu cepat hingga rasanya tak cukup untuk menuntaskan semua tanggung jawab. Alhasil, tak ada waktu untuk memikirkan anak. Hidup mereka hanya difokuskan dalam pencapaian target dalam pekerjaan. Belum lagi ambisi untuk mencapai jabatan dalam berkarir, tentu akan menyita waktu dan usaha yang lebih banyak.

Beberapa dekade silam, memiliki keturunan seakan menjadi sebuah kewajiban. Pasangan yang telah sah menjadi suami istri akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan penerus keluarga. Rasanya, ada sesuatu yang kurang jika sebuah rumah tangga tak memiliki anak. Dan mereka merasa tidak menjadi keluarga seutuhnya jika tak ada anak di dalamnya. Namun, sekarang sudah lain cerita. Kaum milenial (kelahiran tahun 1980-2000) yang berada di usia produktif saat ini tidak takut mengambil keputusan untuk tidak punya anak. Sebuah studi mengatakan, sepertiga kaum milenial tidak ingin punya anak.

Punya anak akan membuat hidupmu berubah secara drastis, dan saya benar-benar cinta dengan hidup saya sekarang ini

– Helen Miren, dikutip dari www.marieclaire.com

Mereka yang nggak mau punya anak sebenarnya nggak melulu karena ada hal yang ditakutkan terjadi nantinya. Ada pasangan yang sepakat untuk nggak punya anak karena merasa hidup mereka berdua sudah lengkap dan bahagia. Mereka tak membutuhkan kehadiran seorang anak untuk membuat hidup mereka semakin utuh. Kasih sayang dan perasaan cinta antara kedua pasangan sudah membuat mereka puas. Jadi nggak ada alasan untuk punya anak.

Bagi mereka yang tak ingin punya anak, ini adalah salah satu alasan paling logis yang bisa mereka kemukakan. Mereka tidak mau punya anak karena memikirkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membesarkan seorang anak. Bukan hanya untuk makan saja, tapi untuk hal-hal penting lainnya, seperti pendidikan. Mereka sangat menyadari bahwa biaya pendidikan saat ini tidaklah murah dan mungkin akan semakin mahal ke depannya. Mereka tidak ingin nanti ketika sudah punya anak, ternyata finansial mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama keperluan si anak. Jadi, daripada mengambil resiko tersebut, mereka lebih memilih untuk tidak punya anak.

Hal ini juga menjadi alasan kenapa wanita enggan untuk punya anak. Ada ketakutan saat hamil apalagi melahirkan. Mereka yang mengutamakan penampilan juga takut akan dampak kehamilan dan melahirkan pada perubahan tubuh. Badan yang semakin melar, payudara yang kendor, dan strechmark yang nanti membekas di perut mereka. Sedangkan bagi yang lainnya, melahirkan adalah ketakutan yang paling menghantui. Harus merasakan sakit yang berpuluh atau ratusan kali lipat dari yang pernah mereka rasakan, atau bahkan bertaruh nyawa untuk melahirkan sang anak. Mereka takut akan hal itu.

Ada juga pasangan yang memutuskan untuk nggak punya anak karena takut akan menurunkan gen yang tidak baik pada anak mereka. Misalnya saja penyakit yang diderita oleh pasangan. Mereka nggak pengen anak mereka nanti juga terkena penyakit yang sama karena diturunkan oleh orangtua mereka. Meskipun kemungkinannya tidak seratus persen, tapi pasangan ini lebih memilih untuk tidak mengambil risiko itu sama sekali. Mereka tidak ingin membuat anak mereka nanti merasakan penderitaan yang sama dengan orang tuanya.

Hamil dan melahirkan itu bukan kodrat, tapi pilihan. Aku nggak mau merasakan sakit pas hamil apalagi melahirkan, dan itu bisa berkali-kali. Udah berkorban kayak gitu kadang suami masih aja selingkuh.

Alasan-alasan ini bagi mereka yang nggak mau punya anak memang sangat masuk akal alias logis. Bagi mereka, mempunyai anak bukan lagi sebuah kewajiban atau aturan berkeluarga yang harus terus dilestarikan, tapi persoalan ini sebuah pilihan. Dan mereka telah memilih untuk tidak punya anak atau keturunan.

– Cameron Diaz, dikutip dari www.marieclaire.com