Gaming Forum_bet36 sports betting_Indonesian Chess

  • 时间:
  • 浏览:0

Dalam bAutAuthentic Baccarat Gamehentic Baccarat Gameudaya Bali, ada tradisi yanAuthentic Baccarat Gameg namanya Kembar Buncing, dimana anak yang terlahir kembar dan beda kelamin pada dasarnya adalah jodoh. Oleh karena itu, anak kembar tidak identik wajib dinikahkan dengan satu sama lain. Masalahnya, di jaman sekarang hal tersebut dianggap sebagai incest, suatu hubungan yang tak normal dan dapat menimbulkan keturunan yang cacat. Nggak mungkin kan mereka adalah jodoh jika anak mereka akan selalu berakhir cacat?

Katanya kesialan akan datang pada calon mempelai pria yang melihat calon mempelai wanita sebelum hari pernikahan. Padahal, tradisi pernikahan yang satu ini nggak seharusnya dijadikan mitos yang mistis. Sebenarnya ada kok alasan yang masuk akal kenapa calon mempelai pria nggak boleh melihat calon mempelai wanitanya. Dengan dipingit, mempelai wanita memiliki kesempatan untuk mempercantik dirinya. Pengantin prianya pun dapat merasakan perasaan “wah” di hari pernikahannya setelah lama tak berjumpa.

Udah lah ya, yang di masa lalu biarlah berlalu. Larangan pernikahan Sunda dan Jawa di jaman sekarang sudah tak sepatutnya dipercaya lagi. Sana lamar mojang Sunda.

Katanya, ketika orang Sunda menikah dengan orang Jawa, pernikahan mereka akan disertai dengan kesialan. Padahal, banyak juga kok pasangan Sunda-Jawa yang langgeng hingga hari tua.

Sebenarnya si adik tak boleh melangkahi si kakak bukan karena perihal si kakak yang akan serat jodoh sih. Mungkin alasan yang sebenarnya adalah lebih kepada perihal menjaga perasaan si kakak. Toh, dalam Islam sebenarnya kita tidak boleh menunda-nunda pernikahan ketika kita sudah menemukan jodoh kita. Jadi, nggak perlu lah percaya akan mitos-mitos seperti ini, kecuali kamu memang punya kakak yang gampang sakit hati dan sirik. Duh!

Nggak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang masih memegang nilai-nilai dan tradisi adat. Oleh karena itu, seringkali kita orang-orang Indonesia masih memegang teguh mitos-mitos dan kepercayaan lama yang mungkin sebenarnya tidaklah selalu benar. Terutama terkait dengan pernikahan, banyak banget mitos-mitos yang kalau dipercaya justru bikin hidup kita salah kaprah. Ini nih beberapa mitos tentang pernikahan di Indonesia yang perlu kamu ketahui agar lebih paham mencari kebenarannya.

Nah, itu tadi beberapa mitos-mitos tradisi pernikahan di Indonesia yang sudah kita buktikan kebenarannya. Dan ternyata, banyak dari mitos-mitos di atas yang tidak benar kan?

Jadi, sebenarnya ada beberapa cerita sejarah yang mendasari mitos mengapa orang sunda dilarang menikah dengan orang Jawa, salah satunya adalah cerita perang Bubat. Dahulu kala di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk dari Jawa berencana ingin menikahi putri sunda, Dyah Pitaloka. Namun karena suatu hal, kedua belah pihak justru berakhir pada peperangan yang memgakibatkan kekalahan pada pihak Sunda. Karena itu, putri Dyah Pitaloka pun bunuh diri dan akhirnya kerajaan Sunda membuat kebijakan bahwa orang Sunda tak dapat menikahi orang luar Sunda, termasuk Jawa.

Dalam budaya Jawa, anak sulung dilarang menikah dengan sesama anak sulung. Katanya, pernikahan kedua anak sulung akan berakhir pada nista dan nestapa, duh! Memang sih, kalau dipikir secara logis, alasan tersebut cukup masuk akal, karena anak sulung biasanya cenderung mandiri dan suka mengatur, kepribadian yang tak akan cocok jika dipadukan dengan yang sama. Tapi, tak semua anak sulung memiliki kepribadian seperti itu, kan? Banyak kok sesama anak sulung yang pernikahannya langgeng hingga tua. Kegagalan rumah tangga mah bukan perihal urutan lahir, guys! 

Orang Jawa ternyata banyak pantangannya ya? Jadi, selain larangan menikahkan anak sulung dengan anak sulung, orang Jawa juga dilarang menikah pada bulan Suro. Katanya sih, menikah di bulan Suro dapat mendatangkan musibah bagi kedua pengantin. Tapi, jika kamu adalah Muslim, pada dasarnya semua bulan adalah baik. Tidak ada bulan yang lebih buruk dari lainnya. Toh, banyak juga orang luar Jawa yang menikah di bulan Suro dan mereka baik-baik saja.