Sejarah Perkembangan 「Baccarat Cash Network」Kuliner Minang, Dulu Belum Ada Gulai

  • 时间:
  • 浏览:0

Jalur pBaccarat Cash Baccarat Cash NetworknBaccarat Cash Networketworkerdagangan rempah dBaccarat Cash Networki sekitar Sumatera Barat dan Selat Malaka

“Dia dijamu makan di sana dengan hidangan bersahaja. Kalau kita membayangkan makanan Minang sekarang ini identik dengan daging yang royal, paduan gulai, kari, dan tambusu. Tapi di masa itu, hidangan yang dihidangkan tidak seperti sekarang,” terang Fadly.

Para pedagang rempah harus melintasi Sumatera Barat untuk bisa mencapai Selat Malaka yang jadi salah satu pusat jalur perdagangan rempah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email



KOMPAS.com – Berada di daerah simpul membuat Sumatera Barat mendapatkan banyak sekali pengaruh budaya bangsa asing, tak terkecuali di bidang kuliner.

“Kalau kita melihat ada keidentikan antara budaya Melayu di Malaysia dengan di Sumatera Barat, maka nanti akan kita lihat,” kata Fadly ketika menjadi narasumber dalam sesi webinar “Perjalanan Rantau: Lapau Nagari Kapau” yang diselenggarakan Aksara Pangan, Kamis (22/10/2020).

“Nanti hubungan perdagangan ini akan membentuk atau memengaruhi kebudayaan di kawasan Selat Malaka. Termasuk juga pengaruh kuliner India, Arab, bahkan Eropa, yang membentuk citra kuliner di kawasan Sumatera Barat ini,” tutur Fadly.

Pasalnya, gulai dan kari sendiri merupakan pengaruh dari kebudayaan India yang berpadu dengan rempah yang berasal dari timur nusantara.

Ilustrasi gulai tambusu khas Minang, usus sapi isi tahu telur.

Ia mencontohkan saat itu ada orang Eropa, tepatnya berasal dari Perancis. Saat itu ia datang ke kawasan Sumatera Barat dan masuk lewat Pelabuhan Tiku.

Citra kuliner Minang yang identik dengan kari dan gulai baru berproses pada masa abad ke-16 dan setelahnya.

Baca juga: Apa Bedanya Makanan Minang Daerah Pesisir dan Pedalaman?

Fadly menuturkan, pada masa itu sekitar sebelum abad ke-16, kuliner Minangkabau belum seperti yang kita kenal sekarang.

Selanjutnya, para pedagang rempah yang berangkat dari wilayah timur Nusantara akan singgah ke Sumatera Barat dalam perjalanan mereka ke Selat Malaka. Pelabuhan Tiku saat itu menjadi salah satu pintu masuknya.

Kala itu hidangan Minang masih sangat sederhana seperti ikan, nasi, dan sesekali ada ayam sebagai pilihan.

Baca juga: Resep Gulai Tambusu Khas Minang, Usus Sapi Isi Tahu Telur

Karena itulah banyak bangsa-bangsa asing seperti Arab, India, Asia Timur, hingga Eropa yang kemudian singgah ke Minangkabau. Sumatera Barat semakin ramai saja ketika Terusan Suez dibuka pada 1869.

Menurut sejarawan Fadly Rahman, dahulu daerah Minangkabau terletak di perlintasan rute perdagangan rempah masa lalu.